Marriage Syndrom

by - 11:58 PM

"Ya ampun, Naa.. aku ngga nyangka bentar lagi kamu nikah." seru Trisha senang.

Hari ini mereka bertiga, Anna, Trisha dan Ken akan berkumpul di apartemen Trisha untuk merayakan hari terakhir Anna single. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Sekarang sudah pukul 22.10, tapi Ken belum juga datang.

"Iya. Aku juga ngga nyangka kalau aku yang bakal nikah pertama dari kalian semua. Aku kira malah kamu duluan, Tris. Padahal kamu kan udah pacaran hampir 5 tahun sama Nick. Apa ngga mau buruan diresmiin?" goda Anna.

"Ngga, Na. Aku masih belum yakin.." tiba-tiba Trisha jadi muram.

"Kenapa, Tris? Kamu bisa cerita kok.." Anna memegang tangan Trisha lembut.

"Ngga, Na. Ini kan malam kamu. Kamu jangan mikirin apa-apa yah. Besok kamu udah nikah. Itu aja yang perlu kamu pikirin." Trisha jadi merasa tidak enak.

"Plis deh, Tris. Kamu lagi ngomong sama aku. Bukan sama orang lain." paksa Anna sedikit.

"Hahaha.. kamu tahu aku lah, Na. Aku ngga percaya sama lembaga pernikahan. Kenapa kita mesti menikah kalau ujung-ujungnya cinta itu bakal hilang?" jawab Trisha sambil tersenyum lalu senyumnya berubah masam ketika melihat raut wajah Anna pucat pasi. "Ups."

"Tris, apa semua pasangan begitu? Cinta bakal hilang dari antara mereka?"

"Hh, An, aku sayang sama kamu. Aku ngga pengen ngeliat kamu luka cuma gara-gara pernikahan. Aku ngga kayak kamu, An, yang selalu positive thinking atas semua hal. Atas semua orang. Aku orang yang percaya angka. Statistik. Karena hanya angka yang punya jawaban pasti, An." Trisha mendesah malas. "Tapi itu juga tidak berarti bahwa kamu harus melakuan hal yang sama denganku. Karena tidak seratus persen juga aku tidak percaya dengan happily ever after, karena aku tahu beberapa orang yang seperti itu. Tetapi seperti yang kukatakan tadi, hanya beberapa dari sekian banyak pernikahan."

"Tapi kamu bisa bertahan 5 tahun dengan Nick.." bela Anna. Anna tahu bagaimana pola pikir Trisha. Tapi ia tidak menyangkan bahwa Trisha benar-benar tidak memikirkan pernikahan. Bayangkan saja, hubungan Trisha dan Nick sudah hampir 5 tahun, tapi Trisha bertindak seolah-olah mereka baru saling mengenal. Lalu bagaimana dengan dirinya yang baru mengenal Bobby selama 2 tahun?? Apa Bobby memang orang yang tepat? Ataukah.... orang lain?

"Hahaha.." Trisha tertawa kecil. "Aku mengenal Nick selama 5 tahun, ya. Tapi aku belum tinggal bersama Nick selama 5 tahun. Bagaimana aku bisa tahu apa yang akan aku jalani, Na? Butuh waktu 5 tahun untuk benar-benar bisa mengenal Nick luar dalam. Butuh waktu 5 tahun untuk benar-benar mengetahui kebiasaan Nick ketika dia benar-benar sedang happy, ketika dia sedang baik, ketika dia sedang ngga mood, ketika dia sedang tidak ingin bicara, ketika dia marah-marah, ketika dia bosan dengan ocehanku, ketika dia menyembunyikan sesuatu dariku, ketika dia membuatku benar-benar marah, ketika kita selesai bertengkar, yang bisa terjadi hampir setiap hari, dan masih jutaan ketika yang aku belum ketahui.." tiba-tiba kini Anna berpikir bahwa mungkin jalan pikirnya selama ini salah. Bahwa dunia ini benar-benar kejam. Bukan lagi sebuah fairy tale seperti yang sering didongengkan ibunya waktu ia kecil. Bukan lagi sebuah happily ever after karena Bobby benar-benar begitu baik padanya. Ia bahkan hampir tidak pernah bertengkar dengan Bobby. Bobby selalu mengalah padanya. Beberapa menit yang lalu, Anna berpikir bahwa Bobby adalah pasangan yang perfect untuknya. Pangeran penunggang kuda putih yang telah menunggu dirinya bangun dari tidur panjang. Tapi, sekarang, semuanya terasa janggal jika harus dipikirkan dengan logika, seperti penjelasan Trisha.

"Trish, apa menurutmu keputusanku menikah benar?" tangan Anna kini gemetaran. Badannya mulai basah dengan keringat dingin.

"Ya ampun, Anna. Tentu saja benar karena ini yang kamu inginkan, bukan??" Trisha terkejut melihat Anna yang menggigil.

"Tris, plis kasih aku satu alasan saja kenapa aku tepat menikahi Bobby?" pinta Anna. Tak terasa air matanya menetes.

"Anna.. sshh.. Sorry, Na. Aku sama sekali ngga bermaksud.."

"Plis, Tris.. satuuu aja. Kamu juga kenal Bobby kan.." Anna masih menangis didalam pelukan Trisha, sedang Trisha bingung harus menjawab apa.

"Emm, Bobby itu cocok banget sama kamu, An.. dia ganteng, kamu cantik.." Trisha nyengir karena Anna melotot ke arahnya.

"Serius, Triss!" Anna mendesah lalu menangis lagi. "Aku tahu selama ini aku ngga pernah nanya pendapat kamu sama Ken tentang Bobby. Maka itu, sekarang, plis kasih aku pendapat tentang Bobby. Terlebih kamu lebih berpengalaman dalam berhubungan seperti ini dan bisa lebih berpikir rasional."

"Na, dengar, aku bicara seperti ini karena aku merasa belum yakin dengan Nick. Bukan tentang kamu dan Bobby. Kamu sudah merasa cocok. Kamu sudah yakin. Jadi plis jangan mikir aneh-aneh hanya karena mendegar aku ngoceh ngga karuan." Trisha berusaha menenangkan. "Ingat, Na. Ini pilihan kamu. Kamu harus konsekuen dengan pilihan yang sudah kamu buat dalam hidup kamu, meski itu berakhir buruk ataupun bagus. Bagaimana nasib Bobby, keluarganya, dan keluargamu? Apalagi pihak wanita yang membatalkan, pasti banyak gunjingan dari orang-orang. Pikirkan juga pihak tamu yang sudah datang. Anna, kamu menikah di hadapan hampir 500 tamu! Jangan melakukan hal yang akan kamu sesali nantinya!"

"Lalu, kalau nanti pernikahanku dengan Bobby tidak berjalan lancar??"

"Hey, that's why I'm here, beb.. Aku yang akan menghajar Bobby sampai mampus." Trisha tersenyum melihat Anna berhenti menangis dan mulai tersenyum.

"Aku takut, Tris."

"Begitu juga aku, An. Begitu juga aku." Trisha memeluk Anna erat. Tidak yakin bahwa semua ini benar. Hatinya mengatakan bukan Bobby orang yang tepat. Tapi, kenyataannya hati Anna berkata lain.

"Tapi, Tris, semua yang kamu bilang itu juga ngga salah. Aku baru mengenal Bobby 2 tahun. Mungkin saja Bobby belum menunjukkan sifat-sifatnya yang asli. Gimana kalau ternyata nanti aku korban KDRT? Gimana kalau ternyata Bobby gampang selingkuh? Gimana kalau Bobby ternyata nanti merasa tersaingi karena aku juga bekerja dan berpenghasilan sama dengannya? Gimana, Tris?"

"An, jujur, aku ngga tahu jawabannya karena aku belum pernah berada di dalam posisi itu. Aku pengecut, An. Maka itu kamu majulah. Percaya dengan instingmu. Percaya kalau kamu pasti bisa ngatasin semua itu. Kamu tahu ngga, kalau terkadang positive thinking adalah kekuatan terbesar yang bisa dimiliki oleh seseorang?"

"Jadi kamu menyarankan aku maju?" Anna menatap Trisha sambil tersenyum.

"Bukan aku yang memutuskan kamu harus maju atau mundur, An. Dengarkan kata hatimu. Dengarkan instingmu." Trisha tersenyum.

"Thanks, Tris." Anna balas tersenyum. "Oh ya, by the way, Ken dimana yah? Masa udah jam segini dia belum pulang kerja sih? Udah lama banget aku ngga ngobrol-ngobrol serius bareng Ken. Tapi, kayaknya dia berubah deh ya, Trish. Apalagi semenjak aku mutusin nikah sama Bobby. Atau itu hanya perasaanku saja ya?"

Oh, dear.. batin Trisha kecut. Bagaimana dia harus menjelaskan pada Anna? Trisha benci berada di posisi seperti ini. Ini sebabnya Trisha selalu menjaga jarak dengan Ken. Dia orang yang berpikiran secara realistis dan tidak ingin pikirannya dikendalikan oleh emosi. Don't you know, dear, that man and woman can not be just best friend??

"Emm, Ken.. kayaknya dia lagi sibuk aja deh, Na... em, kayaknya dia lembur juga deh hari ini." dusta Trisha.

"LEMBUR??" jerit Anna. "Lembur katamu??" jerit Anna lagi lebih keras. Kadang Trisha heran dengan sahabatnya ini. Di satu kondisi dia bisa sangat melankolis, di satu kondisi dia bisa sangat tegas, di satu kondisi dia bisa sangat dewasa, ataupun seperti anak-anak. Pernah Trisha berpikir bahwa Anna punya banyak kepribadian.

"Plis, Na.. ini udah hampir jam sebelas malam. Kecilin volume suara kamu."

"Tapi, Tris.. KEN LEMBUR DI HARI TERAKHIR AKU SINGLE!! CAN YOU BELIEVE THAT??" Anna menekankan setiap katanya dengan nada tinggi tapi sambil setengah berbisik.

"Emm, Na.." Trisha mulai gelisah. Dia bukan tipe penipu yang hebat. Ken salah mempercayainya dalam hal seperti ini.

"Tris.. Apa ada sesuatu?" Anna memicingkan matanya. "You're not such a good liar, you know?"

Belum sempat menjawab, handphone Trisha berbunyi nyaring. "Bentar, Na." Trisha menghampiri handphonenya dan melihat sederet nomor yang tidak terdaftar di phonebooknya.

"Siapa, Trish?"

"Ngga tahu nih. Nomor ngga kenal." tapi Trisha tetap mengangkatnya. "Halo? WHAT??" seru Trisha kencang sebelum menutup telepon itu dan berlari ke pintu depan.

"Kenapa, Tris??" Anna ikutan panik.

"Barusan itu teman Ken, katanya Ken mabuk berat. Dia ngga berani nganter Ken pulang rumah karena ngga ada yang bakal bantuin dia. Jadi dia anter kesini."

"Hah?? Ngapain sih Ken ituu??" seru Anna ikutan cepat-cepat ke pintu depan.

"Hai." sapa seorang teman kerja Ken kalau Trisha tidak salah mengingat.

"Aku ngga mabuk!!" seru Ken sambil sempoyongan berjalan memasuki rumah Trisha.

"Hai. Thanks udah bawa Ken kesini." Anna dan Trisha membantu Ken berjalan.

"Oke, no problem. Night, girls." teman Ken itu berbalik dan meninggalkan apartemen Trisha.

"Ya ampun, Ken. Ngapain sih kamu pakai acara mabuk segala?? Ini katamu lembur, Tris??" sindir Anna.

"Mana aku tahu, An. Kan Ken yang bilang ke aku. Emang aku mesti mastiin ke kantor dulu gitu?"

"Aku ngga mabuk, teman-teman. Chill!" Ken menjauh dari bantuan Trisha dan Anna lalu berusaha keras berjalan ke sofa terdekat.

"Ken, kamu jelas mabuk. Jalan kamu tuh ngga lurus." Anna kekeuh menghampiri Ken yang lalu di dorong oleh Ken hingga hampir terjatuh.

"KEN!" seru Trisha sambil menangkap Anna sebelum ia terjatuh.

"Kamu kenapa sih??" seru Anna marah.

"Aah. Urus aja urusanmu sendiri! Ngga usah sok peduli sama aku!" Ken terduduk sambil memejamkan matanya. "Brengsek tuh Roy! Udah aku bilang suruh anter pulang malah anter kesini!"

"Ken.." Anna menghampiri Ken perlahan lalu berjongkok di hadapan Ken sehingga wajahnya sejajar dengan lutut Ken. Dipegangnya lutut Ken lembut. "Ken, kamu tahu kan kalau kamu bisa selalu cerita ke kita? Kita pasti bantu kamu."

Trisha memandang Ken dari jarak jauh sambil menghela nafas. Oh, dear, Anna, kamu memperburuk situasi dengan berkata seperti itu. batin Trisha trenyuh.

"Ken.. plis bilang sesuatu. Kamu ngga apa-apa kan?"

"Ngga apa-apa??" seru Ken tiba-tiba. "Apa sih mau kamu, An?? APA??" Ken mengibaskan tangan Anna di pangkuannya.

"Kenn.." Anna tidak percaya Ken memperlakukannya seperti itu. Sepuluh tahun mereka berteman, Ken tidak pernah memperlakukannya seperti ini. "Kamu kenapa??"

"Aku bilang ngga usah sok peduli! Urus aja urusan kamu sendiri! Dalam.." Ken menggulung lengan bajunya kasar untuk melihat jam. "Dalam 8 jam lagi kamu akan menikah. Tidur sana!" perintah Ken kasar.

"Ken.."

"An.." Trisha menahan Anna. "Yuk, ke atas." Trisha menatap Anna gelisah.

"Trisha!" pekik Anna marah. "Bagaimana mungkin kamu bisa bohongin aku?? Kamu tahu ada apa dengan Ken kan?? Maka itu kamu berbohong kalau Ken sedang lembur! Ngga! Kamu tega banget sama aku, Tris.."

"Na.. aku.."

"Bilang sekarang sama aku, ada apa dengan Ken??" Trisha menatap Ken sambil terdiam.

"Trisha!! Ya Tuhan, Trisha, kamu ngga kasihan ngeliat Ken seperti itu?? Kita harus bantu Ken cari penyelesaiannya!"

"Kamu kira kamu bisa kasih penyelesaiannya, huh, Na?? Kamu kira semua masalah itu bakal selalu berakhir bahagia?? Bahwa semua masalah selalu punya penyelesaiannya??" jerit Ken marah yang membuat Trisha dan Anna tersentak mundur beberapa langkah.

Anna dengan sedikit menahan ketakutannya, menjawab Ken dengan yakin. "Ya, Ken. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya."

Ken menatap Trisha sekilas dengan pandangan marah yang dibalas Trisha dengan gelengan kepala cepat, menjawab Anna dengan suara sinis sambil melempar handphonenya ke arah Anna. "Maka penyelesaian happy ending untuk masalahku adalah batalkan pernikahanmu dengan Bobby."

"Apa maksud kamu Ken?" Anna terkejut mendengar penuturan Ken.

"Oh, please, An.. Stop pretending that you do not love me!" bentak Ken marah.

Anna menangkap handphone itu dengan terkejut dan melotot memandangi Ken dan Trisha bergantian. "Oh shoot, I forgot about that reason too.." kata Anna lemas.

Trisha menatap kedua sahabatnya itu tidak percaya. "What the hell is going on in here, Guys??"

Namun tangan Anna terlanjur bergerak gelisah dengan handphone Ken di tangannya.



20 March 2010
02.01 am

Singapore time

Copyright by Kezia Renata.

You May Also Like

0 shoutouts